FPP SLNC Mulai Beroperasi, Perkuat Rantai Pasok Limonit Tambang SCM
Sebelum dapat diolah menjadi Mixed Hydroxide Precipitate atau MHP, bijih nikel jenis limonit dari Tambang SCM perlu diproses terlebih dahulu di FPP. Di fasilitas Feed Preparation Plant inilah bijih limonit tersebut disiapkan hingga berwujud slurry, yaitu campuran bijih dan air, untuk kemudian dialirkan melalui jaringan pipa tertutup menuju pabrik HPAL.
FPP merupakan bagian tak terpisahkan dalam proses bisnis terintegrasi PT Merdeka Battery Materials Tbk (BEI: MBMA), dengan PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) sebagai anak usaha yang mengelola Tambang SCM. Di hulu proses, Tambang SCM menghasilkan dua jenis bijih nikel, yaitu saprolit dan limonit. Saprolit, yang berkadar nikel lebih tinggi, kemudian diolah oleh smelter-smelter RKEF milik Grup MBMA. Sementara itu, limonit, yang kurang sesuai untuk diolah melalui teknologi pirometalurgi seperti RKEF, dapat dimanfaatkan melalui pabrik High Pressure Acid Leach atau HPAL untuk menghasilkan MHP, campuran padatan hidroksida dari nikel dan kobalt. MHP merupakan material antara yang dapat diproses lebih lanjut menjadi bahan baku untuk pembuatan prekursor material katoda baterai.
Jalur HPAL ini dikembangkan MBMA setelah jalur RKEF menjadi bagian dari operasinya. Kemitraan konkret untuk mengembangkan HPAL mulai dibangun MBMA pada 2023. Setahun kemudian, HPAL ESG mulai beroperasi dan pada kuartal pertama 2026: HPAL Meiming juga beroperasi. Selain itu, sejak Januari 2025, MBMA juga memulai pembangunan HPAL SLNC dengan kapasitas 90 ktpa nikel dalam MHP. Produksi limonit Tambang SCM yang terus meningkat, dari 10,1 juta wmt pada 2024 menjadi 14,7 juta wmt pada 2025, turut meningkatkan kebutuhan akan sistem pengiriman bijih yang lebih terintegrasi untuk mendukung fasilitas HPAL.
HPAL ESG dan HPAL Meiming yang berlokasi di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) mulai beroperasi sebelum FPP baru di area Tambang SCM selesai dibangun. Selama masa transisi, pasokan limonit ke dua HPAL tersebut masih didukung oleh FPP yang telah tersedia di IMIP. Itu berarti bijih limonit setiap hari diangkut menggunakan truk, menempuh perjalanan sepanjang 46 kilometer, melintasi batas provinsi: dari Tambang SCM di Konawe, Sulawesi Tenggara, menuju fasilitas FPP di IMIP, Morowali, Sulawesi Tengah. Kondisi ini mendorong MBMA membangun FPP di area Tambang SCM agar pengiriman limonit ke fasilitas HPAL dapat dilakukan melalui sistem yang lebih terintegrasi.
Pembangunan FPP di area Tambang SCM beserta jaringan slurry pipeline dimulai pada 2024. Pada akhir 2025, FPP dan jaringan pipa tersebut telah beroperasi untuk mendukung pasokan limonit ke HPAL ESG dan HPAL Meiming. Dengan sistem ini, limonit tidak lagi perlu diangkut seluruhnya melalui jalan darat dari tambang ke FPP di IMIP, tetapi dapat disiapkan menjadi slurry di area tambang dan dialirkan melalui jaringan pipa menuju fasilitas pengolahan.
Pendekatan yang sama diterapkan dalam pengembangan HPAL SLNC. Pembangunan FPP SLNC dan infrastruktur pendukungnya dimulai pada 2024, sementara konstruksi pabrik HPAL SLNC dimulai pada Januari 2025. FPP SLNC mulai digunakan pada 24 September 2026, ditandai dengan Ore Feeding Ceremony. Dua hari kemudian, 26 September 2026, komisioning pertama untuk satu unit autoklaf HPAL SLNC dilakukan. Urutan ini menunjukkan keterkaitan antara FPP dan pabrik HPAL: FPP menyiapkan dan memasok limonit dalam bentuk slurry, sementara HPAL mengolahnya lebih lanjut menjadi MHP. Proses menuju operasi penuh HPAL SLNC dilakukan melalui sejumlah tahapan komisioning, dengan peningkatan produksi menuju kapasitas desain dilakukan secara bertahap.
Beroperasinya FPP SLNC menjadi salah satu tonggak kerja sama antara Grup Merdeka dan Huayou Group. SLNC, singkatan dari PT Sulawesi Nickel Cobalt, merupakan perusahaan patungan yang melibatkan MBMA melalui PT Merdeka Energi Baru dan mitra dari Huayou Group. Dalam kerja sama ini, SLNC mengembangkan dan mengoperasikan pabrik HPAL di IMIP, sementara pasokan bijihnya diperoleh dari Tambang SCM melalui perjanjian komersial.
Bagi SCM, FPP SLNC memungkinkan bijih limonit disiapkan di area tambang sebelum dikirim dalam bentuk slurry melalui jaringan pipa menuju pabrik HPAL SLNC di IMIP. Bagi SLNC, fasilitas ini memastikan pasokan bahan baku terhubung langsung dengan sumber bijih di Tambang SCM.
“Dimulainya ore feeding merupakan hasil kolaborasi dan dukungan berbagai pihak. Kami mengapresiasi tim SCM, SLNC, Huayou Group, dan Grup Merdeka yang telah mendukung penyelesaian fasilitas ini dengan tetap mengedepankan keselamatan sehingga dapat memasuki tahap operasi dengan baik,” ujar Ren Jiang Ning, Assistant Manager PT SLNC.
“Fasilitas ini membantu memastikan pasokan bijih dapat berjalan lebih efisien dan terkoordinasi,” ujar Deputy General Manager Operations PT SCM Yosef Setiyawan. “Pencapaian ini juga tidak terlepas dari komitmen seluruh tim dalam menjaga keselamatan selama tahapan pembangunan hingga fasilitas mulai beroperasi.”
Memasuki tahap operasi, SCM dan SLNC akan memperkuat koordinasi dalam perencanaan pengiriman bijih, pengoperasian fasilitas, serta pemeliharaan untuk menjaga kelancaran proses ore feeding. Koordinasi tersebut menjadi penting agar peningkatan efisiensi tidak mengurangi standar keselamatan dan keandalan operasi.
Beroperasinya FPP SLNC memperkuat infrastruktur penyiapan limonit SCM sekaligus mendukung integrasi rantai nilai nikel, dari kegiatan pertambangan hingga pengolahan. Fasilitas ini juga menjadi bagian penting dari sistem pasokan limonit yang menghubungkan Tambang SCM dengan pengembangan kapasitas HPAL SLNC.
*
