

PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) mengoperasikan tambang dan fasilitas pengolahan nikel yang terintegrasi dengan kawasan industri di Sulawesi untuk mendukung rantai nilai bahan baku baterai kendaraan listrik global. Menjadi perusahaan publik pada 2023, MBMA terus memperluas portofolio bisnisnya dan sejak 2024 tercatat sebagai konstituen indeks IDX30 dan LQ45 Bursa Efek Indonesia.
Bisnis MBMA mencakup tahapan utama dalam rantai nilai nikel, dari penambangan, pengolahan, hingga pemurnian menjadi berbagai produk bernilai tambah. Pasokan bijih nikel utama MBMA berasal dari Tambang Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) di Konawe, Sulawesi Tenggara. Tambang yang memiliki salah satu sumber daya nikel terbesar di Indonesia ini menghasilkan bijih nikel saprolit dan limonit, yang selanjutnya diproses melalui berbagai fasilitas pengolahan dan pemurnian terintegrasi di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), Sulawesi Tengah.
Bijih saprolit diproses melalui fasilitas Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) untuk menghasilkan Nickel Pig Iron (NPI), yang kemudian dikonversi menjadi high-grade nickel matte (HGNM), bahan baku penting dalam industri baterai kendaraan listrik. Sementara itu, bijih limonit diproses melalui fasilitas persiapan bijih sebelum dialirkan ke fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL) untuk menghasilkan mixed hydroxide precipitate (MHP), salah satu bahan baku utama baterai kendaraan listrik.
Di kawasan IMIP, MBMA juga mengembangkan Pabrik AIM (Acid, Iron, Metal), yang mengolah pirit dari Tambang Tembaga Wetar menjadi berbagai produk bernilai tambah. Pengembangan ini mendukung optimalisasi pemanfaatan sumber daya mineral sekaligus memperkuat posisi MBMA dalam rantai nilai industri mineral Indonesia.


