Skip links
Kartini Sandra Tilukay siap mengendarai alat berat di Tambang Tembaga Wetar. [FOTO: Dino Musida/BKP-BTR]

Tidak Bisa Naik Motor? Itu Bukan Syarat Jadi Operator

Mining Apprentice Program berhasil meluluskan perempuan-perempuan operator alat berat di Wetar. Ada yang tidak bisa mengendarai sepeda motor maupun mobil, tetapi sekarang mengoperasikan truk bermuatan 60 ton. 

Bekerja di pertambangan itu berat, jadi hanya lelaki yang sanggup menjalaninya. Anggapan semacam ini memang masih banyak diamini masyarakat pada umumnya. “Pendapat salah itu, buktinya Kartini ada di sini,” kata Kartini Sandra Tilukay, karyawan Batutua Kharisma Permai dan Batutua Tembaga Raya (BKP-BTR). Dan, tugas sehari-hari nona asal Pulau Kisar ini tidak di belakang meja, tetapi mengoperasikan kendaraan berat. “Rasanya keren sekali, walau badan lebih kecil ketimbang ban alat berat, saya tetap bisa operasikan,” kata Kartini, penuh semangat.

Kartini adalah salah seorang dari lima belas perempuan operator kendaraan berat di site penambangan tembaga milik BKP-BTR di Pulau Wetar, Maluku Barat Daya. Mereka adalah lulusan dari Mining Apprentice Program—pelatihan mengoperasikan alat yang dikhususkan bagi peserta perempuan.

Dicky Murod, Senior Manager External Affairs BKP-BTR, mengungkap bahwa pelatihan yang diikuti Kartini dan peserta lainnya adalah bentuk dukungan BKP-BTR terhadap kesetaraan gender. Dengan memberikan keterampilan mengoperasikan alat berat kepada perempuan, terbuka peluang kerja di dunia pertambangan untuk profesi-profesi yang sebelumnya lebih banyak diisi pekerja laki-laki. Selain itu, pelatihan juga diadakan untuk mengisi kebutuhan operator alat berat di BKP-BTR. Setelah mereka lulus, tanggung jawab operator perempuan tidak berbeda daripada operator laki-laki.

Pelatihan mulai bergulir sejak Juli 2021 dan berlangsung dalam beberapa batch atau gelombang. Pada awalnya, para peserta berasal dari Lurang dan Uhak, dua desa terdekat dari lokasi BKP-BTR. Selanjutnya, peserta datang dari desa-desa lain di Pulau Wetar dan pulau lain di Kabupaten Maluku Barat Daya seperti Pulau Kisar.

Setiap batch berlangsung selama 50 hingga 60 hari, dibimbing tim pelatih profesional. Pelatihan dijalankan di lokasi pertambangan yang sesungguhnya. Kartini dan kawan-kawannya dilatih mengoperasikan haul truck 733 yang memiliki kapasitas muatan 60 ton dan articulate dump truck 745 dengan daya angkut 45 Ton.

Kartini mengaku takjub dengan kemampuan dirinya saat ini. Sampai sekarang, ia tidak bisa mengendarai sepeda motor tetapi malah bisa membawa truk besar di pertambangan. “Saya dulu cuma lihat unit-unit tambang di televisi,” kata Kartini, Sarjana Ilmu Komputer dari STIKOM Ambon.

Dengan rompi oranye, para operator perempuan siap memasuki area tambang. [FOTO: Dino Musida/BKP-BTR]
Rekan Kartini, Kaindah Feum Ahab pun merasakan lompatan dalam kehidupannya setelah menjadi operator kendaraan berat. Ia yang sebelumnya bekerja di Puskesmas Lurang mengaku memiliki kesan yang sama dengan Kartini. “Saya justru merasa keren kalau ada orang yang tidak percaya saya kerja di lapangan tambang,” kata Kaindah, disusul tawa berderai.

Kaindah merasakan jalan masa depan hidupnya terbuka. Menurutnya, keterampilan dan pengalaman mengoperasikan kendaran berat adalah modal yang luar biasa. “Kalau sudah selesai dari sini, saya bisa bekerja di pertambangan di tempat lain, saya pasti akan kaya pengalaman dengan melihat daerah-daerah lain di Indonesia,” katanya.

Kaindah menyebut dokter Gian Alodia Risamasu yang menjadi atasannya di Puskesmas Lurang sebagai orang yang berjasa baginya. “Dokter Gian yang mendorong saya agar ikut pelatihan di sini, katanya biar saya bisa memiliki wawasan dan pengalaman yang jauh lebih luas dari luas desa saya,” ujar Kaindah.

Pengalaman serupa juga didapatkan Novita Leladara. Ibu dari satu anak ini berasal dari Desa Ilputih di Wetar. “Bekerja di tambang ternyata seru, saya sangat menikmati,” kata Novita yang suaminya juga bekerja di BKP-BTR.

Bagaimana dengan gaji? “Bagus,” kata mereka bertiga serempak diiringi senyum. Kaindah mengaku jumlah penghasilannya jadi operator berlipat dari petugas administrasi di Puskesmas.


Kepala pelatih Phillips Benny menyatakan bahwa ada banyak kelebihan bila kendaraan berat dioperasikan oleh perempuan. “Perempuan itu konsisten dan stabil, beda dari laki-laki yang ada grasa-grusunya,” katanya. Misal, bila mendapat tugas sepuluh trip, operator perempuan bisa memenuhinya dalam waktu yang tepat dengan jarak waktu antara trip yang sama, sementara operator laki-laki tidak tetap kecepatannya sehingga kadang malah lambat dan tidak mencapai target.

Selain itu, tambah Benny, tingkat kerusakan pada kendaraan berat ternyata menurun. “Karena cara perempuan memperlakukan dan mengendalikannya berbeda,” kata Benny. Operator perempuan tidak menjumpai kesulitan mengoperasikan truk karena caranya serupa dengan menjalankan mobil ‘matic. “Hal yang penting diterapkan pada operator adalah kedisplinan dan kepatuhan ketika sebelum, selama, dan sesudah mengoperasikan,” kata Benny.

Seperti yang diceritakan Kartini: sebelum mulai bekerja, ia wajib memastikan semua bagian kendaraan dalam keadaan baik, selama beroperasi selalu patuh kepada pengawas yang memberi arahan dan penuh kehati-hatian, dan sesudah bertugas memastikan lagi kendaraan dalam keadaan baik.

Setelah Kartini, Kaindah, dan Novita akan ada lagi perempuan-perempuan operator di BKP-BTR karena kegiatan pelatihan masih berlangsung. Mereka akan bertugas siang maupun malam sesuai jadwal yang telah diatur.

Situs web ini menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman web Anda.