Skip links
Sosialisasi BKP-BTR mengenai Kurikulum Merdeka Belajar. [FOTO: Yesayas Tonubadu/BKP-BTR]

Memacu Kurikulum Merdeka Belajar di Wetar

Pemerintah meluncurkan Kurikulum Merdeka Belajar untuk mengatasi ketertinggalan akibat pandemi. BKP-BTR berperan dalam sosialisasi dan memfasilitasi pelatihan bagi guru-guru di Wetar.

Pandemi COVID-19 belum sepenuhnya berlalu. Tapi, tanda-tanda kehidupan normal sudah makin banyak terlihat. Hanya saja, situasi dua tahun terakhir ternyata menyisakan sekian persoalan bagi dunia pendidikan di Indonesia. Akibat para siswa belajar lewat internet di rumah, terjadi keterlambatan capaian Kurikulum 2013.

Agar para anak didik tidak makin tertinggal, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud dan Riset) melakukan mitigasi dengan menerapkan Kurikulum Merdeka Belajar yang akan mulai berjalan pada tahun ajaran 2022/2023 pada jenjang taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, hingga sekolah menengah atas. Menteri Dikbud dan Riset Nadiem Makarim menyatakan bahwa konsep kurikulum baru ini akan membuat siswa bisa mendalami minat dan bakatnya masing-masing. Misalnya, jika dua anak dalam satu keluarga memiliki minat yang berbeda, maka tolok ukur nilai yang dipakai tidak sama. Anak juga tidak bisa dipaksakan mempelajari suatu hal yang tidak disukai. Artinya kurikulum tersebut memberikan otonomi dan kemerdekaan bagi siswa dan sekolah.

Dalam Kurikulum Merdeka untuk tingkat sekolah menengah atas tidak ada lagi penjurusan IPA, IPS, dan Bahasa. Para siswa yang memasuki umur dewasa dapat memilih mata pelajaran yang diminati.

Menurut kurikulum.kemdikbud.go.id, Kurikulum Merdeka dikembangkan sebagai kerangka kurikulum yang lebih fleksibel, sekaligus berfokus pada materi esensial dan pengembangan karakter dan kompetensi murid. Karakteristik utama dari kurikulum yang mendukung pemulihan pembelajaran ini adalah pembelajaran berbasis proyek untuk pengembangan soft skills dan karakter sesuai profil Pelajar Pancasila. Siswa fokus pada materi esensial sehingga memiliki waktu cukup untuk mempelajari secara mendalam berbagai kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi. Guru lebih fleksibel untuk melakukan pembelajaran yang terdiferensiasi sesuai dengan kemampuan peserta didik dan menyesuaikannya dengan konteks dan muatan lokal.

Pada akhirnya, jaminan keberlangsungan Kurikulum Merdeka Belajar ada pada guru. Peranan guru tetap menjadi pusat proses pendidikan. Titik ini menjadi perhatian penuh perusahaan pertambangan dan pengolahan Tambang Tembaga Wetar. Karenanya PT Batutua Kharisma Permai dan PT Batutua Tembaga Raya (BKP-BTR) menyelenggarakan sosialisasi Kurikulum Merdeka Belajar kepada sejumlah guru dari sekolah-sekolah di desa lingkar tambang yang notabene adalah daerah pelosok.

Sosialiasi ditujukan pada SMP dan SMA di Desa Lurang, Kecamatan Wetar Utara, Pulau Wetar, Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD). Kegiatan dilakukan dalam dua kesempatan: pertama, pada 25–26 April 2022 yang diikuti oleh sebelas guru SMA Negeri 16 MBD; dan kedua, pada 2–3 Mei yang diikuti oleh sembilan guru SMP Satu Atap.

Kegiatan tersebut merupakan realisasi dari kerja sama program Pemberdayaan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) BKP-BTR dan konsultan A+ CSR Indonesia. Yang bertindak selaku fasilitator adalah Mikael Jeramu dan Stefanus Jelalu. Selain membawakan materi kurikulum baru, mereka juga memberikan pelatihan dan peningkatan kapasitas untuk melaksanakan Kurikulum 2013 kepada enam orang pengajar SD Negeri Uhak pada 28 April, dan lima guru SD Negeri Lurang pada 2–3 Mei 2022.

Sosialisasi berlangsung dengan metode curah pendapat, paparan, dan diskusi. Para guru yang ikut serta terlihat antusias. Kurikulum Merdeka Belajar adalah sesuatu yang baru, para peserta diwajibkan aktif bertanya dan berpendapat. Dalam kurikulum baru ini, guru dituntut lebih kreatif dalam membangkitkan minat dan keaktifan peserta didik.

Senior Manager External Affairs BKP-BTR Dicky Murod menyatakan bahwa kemajuan generasi muda di sekitar area operasi selalu menjadi perhatian dan kepedulian perusahaan. Salah satu cara nyatanya adalah peningkatan mutu pendidikan sekolah. Selain peningkatan kapasitas guru, BKP-BTR juga memberikan beasiswa bagi pelajar dan mahasiswa yang berasal dari masyarakat sekitar, bantuan ruang kelas bagi SMA 16 MBD, dan buku pelajaran kepada sekolah-sekolah di Desa Lurang dan Desa Uhak.

Situs web ini menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman web Anda.