Skip links
Konstruksi pabrik Merdeka Tsingshan Indonesia di area Industrial Morowali Indonesia Park, Morowali, Sulawesi Tengah. [FOTO: MTI]

Menjawab Tantangan Masa Depan dengan Energi Bersih

Energi bersih akan menjadi kebutuhan yang makin tak terelakkan. Merdeka menjawab tantangan ini, antara lain dengan terjun di industri baterai.

Ada kesibukan lain selain operasi sehari-hari di Tambang Tembaga Wetar hari-hari terakhir ini. Di salah satu titik di pesisir Lurang, tiang-tiang pancang mulai ditanam untuk pembangunan dermaga khusus yang kelak akan dipakai sebagai pengiriman pirit ke Morowali, Sulawesi Tengah. Saat ini, mengingat belum ada pengiriman rutin dalam jumlah besar, pirit yang kebanyakan berasal dari area Partolang ini masih disimpan secara khusus, semisal timbunannya ditutupi liner (terpal) agar bebas dari cairan asam.

Pirit atau yang dikenal juga sebagai pirit besi atau emas semu adalah mineral yang paling umum dari kelompok mineral sulfida. Kilap logam dan warna kuning pucatnya sepintas mirip emas—dari situlah muncul nama badar emas atau emas semu. Pada masa lalu, pirit banyak dipakai sebagai sumber pengapian di senjata api. Di masa modern, mineral ini banyak dipakai untuk industri kertas, bahan baku asam sulfat, dan katode dalam baterai litium—nah, terkait baterai atau energi hijau inilah Merdeka Copper Gold membangun dermaga khusus di Wetar.

Tampak dari kejauhan: pembangunan dermaga khusus di Wetar yang akan digunakan untuk mengirim pirit ke Morowali. [FOTO: Dino Musida/BKP-BTR]
Selama beberapa tahun terakhir, sesuai namanya, Merdeka identik dengan produksi emas dan tembaga dari dua wilayah operasinya di Banyuwangi dan Wetar. Sejak 2020, Merdeka melebarkan sayap secara resmi ketika menandatangani MoU dengan Eternal Tsingshan Group Limited. Kedua pihak sepakat mengembangkan bersama Proyek AIM (Acid, Iron, Metal), pabrik pengolahan sisa bijih mineral yang berasal dari Tambang Tembaga Wetar yang akan menghasilkan antara lain bahan baku baterai untuk mobil listrik. Pada 2021, kesepakatan ini ditingkatkan dengan pendirian perusahaan gabungan PT Merdeka Tsingshan Indonesia (MTI) di Morowali, Sulawesi Tengah, dengan komposisi kepemilikan saham Merdeka sebanyak 80 persen dan Tsingshan sebanyak 20 persen.

Saat ini, MTI sedang dalam tahap konstruksi di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). IMIP sendiri adalah sebuah kompleks yang terdiri atas berbagai pabrik yang akan menjadi konsumen dari sebagian besar kandungan mineral yang diekstrak MTI. Untuk Proyek AIM,  Merdeka telah menginvestasikan modalnya sekitar 300 juta dolar AS untuk mengurus perizinan dan pendirian pabrik MTI, dan juga pembangunan pelabuhan khusus di Wetar. MTI ditargetkan dapat memulai produksi pada 2023 dan diperkirakan dapat menghasilkan 170 juta dolar AS per tahun selama lebih dari 20 tahun.

Menurut Albert Saputro, Presiden Direktur Merdeka Copper Gold, pengembangan bisnis Merdeka tersebut sejalan dengan apa yang sudah dilakukan perusahaan selama ini. “Prinsipnya sama, kami menghasilkan material yang berkontribusi penting bagi kemajuan peradaban manusia. Nah, dengan meningkatnya tuntutan terhadap energi hijau, baterai akan menjadi kebutuhan tak terelakkan, dan Merdeka harus berada di barisan terdepan untuk pemenuhannya,” kata Albert.


Keseriusan Merdeka mengembangkan bisnis baterai bisa dilihat dengan langkah terbarunya. Pada 17 Mei 2022, Merdeka melalui salah satu anak perusahaannya, yaitu PT Batutua Tambang Abadi (BTA) telah membeli 55,67 persen saham PT Hamparan Logistik Nusantara (HLN) dengan nilai total Rp5,4 triliun.

Dengan pembelian tersebut, Merdeka mendapatkan PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) seluas 21.100 hektar di Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara yang memiliki sumber daya nikel terbesar yang belum dikembangkan di dunia; Cahaya Smelter Indonesia (CSI) dan Bukit Smelter Indonesia (BSI), dua smelter nikel Rotary Kiln & Electric Furnace (RKEF) yang beroperasi dan menghasilkan arus kas; Zhao Hui Nickel (ZHN), salah satu pabrik peleburan nikel RKEF yang sedang dibangun; dan Indonesia Konawe Industrial Park (IKIP), kawasan industri nikel joint venture di dalam IUP SCM yang saat ini masih dalam tahap perencanaan dan kelayakan.

SCM adalah operasi penambangan terbuka dengan biaya dan risiko rendah. Lokasinya di dekat pabrik pengolahan hilir, sekitar 50 km jalan darat dari IMIP. Saat ini sedang dibangun jalan agar bijih saprolit SCM dapat diangkut dengan truk ke IMIP untuk diproses di pabrik CSI, BSI, dan ZHN RKEF untuk menghasilkan nikel pig iron (NPI). Target bijih saprolit yang diproduksi adalah 7 juta per tahun nantinya.

SCM juga akan memasok bijih limonit ke pabrik High Pressure Acid Leach (HPAL) di IMIP, yaitu, pabrik Huayue Nickel Cobalt (HNC). Di masa mendatang, HPAL diharapkan akan dikembangkan di IKIP yang terletak di dalam IUP SCM. HNC akan membangun jaringan pipa yang menghubungkan pabrik persiapan bijih di SCM ke HPAL mereka di IMIP. Limonit dipakai dalam produksi Campuran Hidroksida Precipitate (MHP) yang digunakan untuk pembuatan baterai. Perkiraan pasokan bijih adalah 6–8 metrik ton per tahun bijih limonit mulai pertengahan 2023.

CSI Smelter dan BSI Smelter dimiliki dan dioperasikan bersama dengan Tsingshan di IMIP. Keduanya beroperasi penuh dan memiliki kapasitas papan nama gabungan ~38.000 ton nikel per tahun. Baik smelter CSI maupun BSI dibangun oleh Tsingshan pada 2020. Tsingshan memelopori pengembangan smelter RKEF. Pabrik peleburan RKEF terkait Tsingshan di Indonesia saat ini memproduksi Nikel lebih dari 500 ribu ton per tahun. RKEF menghasilkan NPI yang digunakan dalam produksi baja tahan karat—baik untuk di dalam IMIP maupun diekspor.


Baterai adalah salah satu alternatif energi bersih yang kebutuhannya makin nyata saat ini dan ke depan. Energi bersih memberikan berbagai manfaat lingkungan dan ekonomi, termasuk pengurangan polusi udara. Pasokan energi bersih yang beragam juga mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Energi bersih juga penting untuk pembangunan berkelanjutan karena pengembangan dan penggunaan energi terbarukan akan meningkatkan ketahanan energi, lingkungan, ekonomi, manufaktur mekanik, konstruksi, transportasi, dan industri, serta membantu menciptakan lapangan kerja baru.

Dalam konteks menjawab tantangan inilah pengembangan bisnis Merdeka di industri baterai bukan saja berterima melainkan menjadi keniscayaan. Bersamaan dengan itu, di sisi operasional, Merdeka juga akan makin condong menggunakan teknologi hijau.

Merdeka sudah memulai di Pulau Wetar, area operasi PT Batutua Kharisma Permai dan Batutua Tembaga Raya (BKP-BTR). Sejak Januari lalu, di lereng bukit di atas rumah genset, terhampar 600 modul surya yang terbagi ke dalam tiga kolom. Modul-modul ini sudah menghasilkan listrik sebanyak 540 kWh ke dalam sistem On Grid untuk kebutuhan operasi perusahaan. Dengan demikian, site tidak lagi bergantung sepenuhnya dengan genset diesel.

Sebelumnya, pada akhir 2021, BKP-BTR mengganti semua genset diesel lama sebanyak 18 unit dengan genset baru yang lebih efisien 10 persen untuk pemakaian bahan bakarnya. Dengan langkah ini, emisi gas rumah kaca berkurang sekitar 1.600 ton CO2(e) per tahun. Menurut CEO Merdeka, Silmon Milroy, penurunan emisi karbon adalah salah satu target kinerja keberlanjutan perusahaan sesuai dengan komitmen Emisi Nol Bersih Merdeka pada 2050.

Salah satu langkah penting agar bisa mencapai target 2050 adalah pembentukan kemitraan strategis Merdeka dengan Hong Kong Brunp CATL (Contemporary Amperex Technology Co., Limited) untuk berinvestasi dalam rantai pasokan logam baterai di Indonesia. Dengan kesepakatan yang diteken keduanya pada akhir 2021, Brunp CATL berencana menjadi investor strategis di Merdeka dengan kepemilikan saham hingga 5 persen.

Hong Kong Brunp CATL, afiliasi dari CATL, adalah pemimpin global dalam inovasi teknologi energi baru, yang berkomitmen menyediakan solusi dan layanan utama untuk aplikasi energi baru di seluruh dunia. Menurut SNE Research, pada 2020, volume konsumsi baterai EV CATL menduduki peringkat No. 1 di dunia selama empat tahun berturut-turut. CATL juga mendapat pengakuan luas dari mitra produsen peralatan asli global.

Dalam kemitraan strategis di Indonesia yang bersifat saling melengkapi inilah Merdeka dan Brunp CATL mempertimbangkan pembentukan platform investasi untuk investasi sumber daya mineral untuk rantai nilai logam baterai, seperti nikel, kobalt, litium, tembaga, mangan, dan aluminium. Platform ini juga akan mengembangkan kawasan industri logam baterai serta mendukung sumber energi hijau. Keduanya juga akan secara proaktif berupaya terlibat dalam proyek bersama dalam rantai logam baterai yang lebih luas di Indonesia, dengan tujuan mengembangkan industri kendaraan listrik dan baterai di Indonesia.

“Kami sangat senang menyambut CATL sebagai investor strategis di Merdeka. Rantai pasokan logam baterai memiliki potensi pertumbuhan yang besar di Indonesia dan sangat didukung oleh kebijakan pemerintah. Kami yakin bahwa kami bermitra dengan kelompok yang tepat dan bahwa kemitraan kami akan secara signifikan memperkuat fokus dan kemampuan Merdeka di sektor ini,” kata Milroy.

Apa yang dilakukan Merdeka memang masih tahap awal. Tapi, sebagai perusahaan yang mempunyai visi menjadi yang terdepan, langkah ini menjadi keharusan. Masa depan sudah di depan mata.

Situs web ini menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman web Anda.